Menggapai Puncak Garuda ( Pasca Erupsi #1 )
Gunung merapi, gunung berapi teraktif di dunia ini terletak diantara provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dan pada pertengahan maret 2011 kemarin merupakan yang ke 3 kalinya saya mendaki gunung ini. Pendakian yang ke 3 ini terasa sangat berbeda dibanding pendakian-pendakian sebelumnya, karena pada pendakian ini gunung merapi baru saja meletus atau biasa disebut erupsi pada akhir 2010 lalu.
Persiapan dilakukan di kampus fakultas kehutanan pada pukul 18.00 wib. Tim terdiri dari aku sendiri, anjar, mandra, manan, felix, woki, vio dan situm. Kita berangkat menuju desa Selo dalam keadaan hujan yang cukup lebat. Sesampainya di base camp pendakian gunung merapi ternyata pendakian masih ditutup dan dilarang mencapai puncak, namun kita tetap nekat untuk mendaki. Tepat pukul 23.00 kita berangkat dari base camp.
Diawal perjalanan seperti biasa perjalanan terasa berat karena aklimatisasi yang belum terbiasa. Melewati jalan beraspal, dilanjutkan jalan setapak dipinggir jurang hingga melewati batas perkebunan dan memasuki hutan ditemani suasana pegunungan yang cukup dingin beserta lampu-lampu kota selo, klaten dan solo. Kondisi pada saat itu debu bekas erupsi masih sangat terlihat jelas. Nampak jalanan setapak dan daun-daun pohon masih berwarna putih keabu-abuan.
Perjalanan cukup lama, disebabkan felix yang tidak kuat dalam aklimatisasi terpaksa diantar turun oleh aku dan anjar, kemudian dia beristirahat di base camp. Perjalanan kami lanjutkan dengan 7 orang. Pasca erupsi jalur pendakian tidak banyak yang berubah, ini disebabkan karena erupsi merapi mengarah ke selatan gunung merapi sedangkan jalur selo ini berada di utara gunung merapi. Namun sesampainya di pos 2 kita membuat tenda dome karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 wib.
Seperti biasa kita berfoto-foto ria menikmati sunrise yang sangat bagus dari ufuk timur ditemani kemegahan puncak merapi yang terlihat lebih menyeramkan dari 2 kesempatan pendakian sebelumnya. Setelah itu agenda memasak dan beristirahat kita lakukan. Woki, mandra dan situm yang penasaran dengan puncak merapi berusaha untuk mencapai pos terakhir sebelum menuju puncak, yaitu pasar bubrah. Mereka mencapai pasar bubrah dengan waktu sekitar 30 menit dari pos 2 tempat kita mendirikan tenda dome. Kondisi pasar bubrah sangat jauh berbeda, in memoriam yang dulu tertanam megah sebagai symbol kekuatan para pendaki yang terpaksa menemui ajalnya di gunung ini sudah hancur lebur. Kondisi pasar bubrah yang dulu bagaikan lembah, kini sudah tertumpuk dengan jutaan meter kubik pasir pasca erupsi yang terjadi akhir 2010 silam. Kondisi jalur yang dulu sudah tidak ada bertambah parah dengan kondisi ini.
Kondisi jalur pendakian menuju puncak pun tanahnya masih dapat dikatakan labil dan mudah terperosok. Hal ini kita ketahui dari 2 pendaki lain yang berasal dari fakultas hokum UNS solo. Mereka berdua berhasil menjejakkan kaki di puncak merapi pasca erupsi.
Selanjutnya sekitar pukul 14.00 kita menuruni merapi dengan perasaan yang masih penasaran akan puncak merapi. Semoga dilain waktu saya dapat menjejakkan kaki di tanah tertinggi merapi untuk menikmati indahnya lagi. 86,,
Persiapan dilakukan di kampus fakultas kehutanan pada pukul 18.00 wib. Tim terdiri dari aku sendiri, anjar, mandra, manan, felix, woki, vio dan situm. Kita berangkat menuju desa Selo dalam keadaan hujan yang cukup lebat. Sesampainya di base camp pendakian gunung merapi ternyata pendakian masih ditutup dan dilarang mencapai puncak, namun kita tetap nekat untuk mendaki. Tepat pukul 23.00 kita berangkat dari base camp.
Diawal perjalanan seperti biasa perjalanan terasa berat karena aklimatisasi yang belum terbiasa. Melewati jalan beraspal, dilanjutkan jalan setapak dipinggir jurang hingga melewati batas perkebunan dan memasuki hutan ditemani suasana pegunungan yang cukup dingin beserta lampu-lampu kota selo, klaten dan solo. Kondisi pada saat itu debu bekas erupsi masih sangat terlihat jelas. Nampak jalanan setapak dan daun-daun pohon masih berwarna putih keabu-abuan.
Perjalanan cukup lama, disebabkan felix yang tidak kuat dalam aklimatisasi terpaksa diantar turun oleh aku dan anjar, kemudian dia beristirahat di base camp. Perjalanan kami lanjutkan dengan 7 orang. Pasca erupsi jalur pendakian tidak banyak yang berubah, ini disebabkan karena erupsi merapi mengarah ke selatan gunung merapi sedangkan jalur selo ini berada di utara gunung merapi. Namun sesampainya di pos 2 kita membuat tenda dome karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 wib.
Seperti biasa kita berfoto-foto ria menikmati sunrise yang sangat bagus dari ufuk timur ditemani kemegahan puncak merapi yang terlihat lebih menyeramkan dari 2 kesempatan pendakian sebelumnya. Setelah itu agenda memasak dan beristirahat kita lakukan. Woki, mandra dan situm yang penasaran dengan puncak merapi berusaha untuk mencapai pos terakhir sebelum menuju puncak, yaitu pasar bubrah. Mereka mencapai pasar bubrah dengan waktu sekitar 30 menit dari pos 2 tempat kita mendirikan tenda dome. Kondisi pasar bubrah sangat jauh berbeda, in memoriam yang dulu tertanam megah sebagai symbol kekuatan para pendaki yang terpaksa menemui ajalnya di gunung ini sudah hancur lebur. Kondisi pasar bubrah yang dulu bagaikan lembah, kini sudah tertumpuk dengan jutaan meter kubik pasir pasca erupsi yang terjadi akhir 2010 silam. Kondisi jalur yang dulu sudah tidak ada bertambah parah dengan kondisi ini.
Kondisi jalur pendakian menuju puncak pun tanahnya masih dapat dikatakan labil dan mudah terperosok. Hal ini kita ketahui dari 2 pendaki lain yang berasal dari fakultas hokum UNS solo. Mereka berdua berhasil menjejakkan kaki di puncak merapi pasca erupsi.
Selanjutnya sekitar pukul 14.00 kita menuruni merapi dengan perasaan yang masih penasaran akan puncak merapi. Semoga dilain waktu saya dapat menjejakkan kaki di tanah tertinggi merapi untuk menikmati indahnya lagi. 86,,
Komentar
Posting Komentar